Search

Follow Us @soratemplates

Rabu, 16 Oktober 2019

Laporan Praktikum Golongan Darah pada Manusia

logo unej

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI DASAR
GOLONGAN DARAH PADA MANUSIA




Disusun Oleh :
                                                        Nama : Reny Dwi Irfiana
                                                        NIM : 150210103071
                                                        Kelompok : 08
                                                        Program Studi : Pendidikan Biologi



LABORATORIUM BIOLOGI DASAR
PENDIDIKAN BIOLOGI-PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015



I.                   JUDUL
Golongan Darah pada Manusia
II.                TUJUAN
Setelah selesai praktikum ini mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan penggolongan darah manusia
III.             DASAR TEORI
 Darah adalah cairan berwarna merah yang terdapat didalam pembuluh darah. Warna merah tersebut tidak selalu tetap. Tetapi berubah ubah karena pengaruh zat kandungannya, terutama kadar oksigen dan karbondioksida. Apabila kadar oksigen tinggi maka warna darahnya menjadi merah muda, tetapi bila kadar karbondioksidanya tinggi maka warna darahnya menjadi merah tua. Volume darah pada manusia adalah 8 % berat badan. Darah merupakan medium transport dari sistem sirkulasi. Darah tidak hanya mengangkut O2 dan CO2 ke  jaringan dan dari jaringan dan paru-paru, tetapi juga mengangkut bahan lainnya di seluruh badan, diantaranya molekul-molekul makanan (seperti gula dan asam amino), limbah metabolism (urea), ion-ion dari macam-macam garam dan hormon-hormon (Waluyo, 2006 : 171).
Setiap orang mempunyai beberapa golongan berhubungan dengan berbedanya terdapat susunan protein darahnya. Protein yang memegang peranan untuk ini ialah antigen dan aglutinin (antibodi). Antigen, protein yang terdapat dalam eritrosit, aglutinin di dalam plasma (Yatim, 1987 : 211).
Kita mengenal ada empat macam golongan darah yaitu,  A, B, AB, dan O. Dalam sistem golongan darah terdapat dua macam zat sel darah A dan B, serta dua macam plasma yaitu anti A dan anti B. Berikut kombinasi yang mungkin terjadi, individu dengan A pada sel darah merahnya, memiliki anti B pada plasmanya. Individu dengan B pada sel darahnya, memiliki anti A pada plasmanya. Individu dengan A dan B pada sel darah merahnya, tidak memiliki anti A dan anti B pada plasmanya. Individu tanpa A dan B pada sel darah merahnya, memiliki anti A dan anti B pada plasmanya (Tim dosen pembina, 2015: 19).
Penggolongan darah dengan sistem yang lain adalah sistem Rhesus dan sistem MNS. Kedua sistem ini memiliki antigennya dalam eritrosit tapi tak ada aglutinin dalam plasma. Jadi kalau terjadi transfusi antara orang yang berbeda jenis darah, secara biasa dan kalau golongan darah mereka sama, maka tidak akan terjadi penggumpalan. Pada sistem Rhesus terdapat 2 jenis darah yaitu Rhesus (+) dan Rhesus (-), Rhesus (+) mengandung antigen faktor rhesus dalam eritrositnya, tak ada aglutinin dalam plasma darah. Sedangkan orang yang berjenis Rhesus (-) tidak mengandung antigen faktor rhesus, juga tidak mengandung aglutininnya dalam plasma. Dalam sistem MNS orang dibagi atas berbagai jenis : MS, MNS, NS, Ms, MNs, dan Ns. Disini juga hanya ada antigen pada eritrositnya, tetapi tidak ada aglutinin dalam plasma darahnya (Yatim, 1987 : 213).
Bila darah yang tidak cocok dicampur sehingga aglutinin anti A atau anti B dicampur dengan sel darah merah yang mengandung aglutinogen A atau B terjadilah aglutinitas sel darah merah sebagai berikut, aglutinin melekatkan dirinya pada sel darah merah. Karena aglutinin mempunyai 2 tempat pengikatan (tipe IgG) atau 10 tempat pengikatan (tipe IgM), maka satu aglutinin dapat mengikat satu atau lebih sel darah merah yang berbeda pada waktu yang sama, karena itu sel dapat melekat satu sama lain. Keadaan ini menyebabkan sel menggumpal. Gumpalan ini akan menyumbat pembuluh darah kecil di seluruh sistem sirkulasi. Selama beberapa jam sampai beberapa hari berikutnya, sel darah putih fagositik dan sistem retikuloendotelial akan menghancurkan sel-sel yang mengalami aglutinasi dan melepaskan hemoglobin ke dalam plasma (Guyton, 1995: 94).
Alat pembaca golongan darah dirancang secara elektronik untuk membaca dan menentukan golongan darah. Pembacaan golongan darah dan rhesus seseorang saat ini dapat dilakukan dengan proses pengujian sel darah merah dengan antisera (serum), dengan melihat apakah darah yang telah diberi antisera (serum) terjadi aglutinasi (penggumpalan) atau non-aglutinasi (tidak menggumpal) (Azhar, dkk, 2014). 
Ada tidaknya zat antigen dipermukaan membrane sel darah merah seorang individu menyebabkan darah individu dapat dikelompok-kelompokkan, yang kita kenal dengan golongan darah. Di dalam sel darah merah mempunyai perbedaan jenis karbohidrat dan protein. Dua jenis penggolongan darah yang paling penting adalah penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Sebetulnya ada 46 jenis antigen selain antigen ABO dan Rh, namun sangat jarang. Transfusi darah dari golongan yang tidak sesuai dapat mengalami hal yang membahayakan bagi tubuh individu yang menerima, bahkan bias sampai kematian (Azhar, dkk, 2014).

IV. METODE PRAKTIKUM
4.1 Alat dan Bahan
Alat :
a. Mikroskop
b. Tusuk gigi
c. Pinset
d. Pensil
e. Lanset/jarum steril
f. Gelas obyek
Bahan :
a. Serum A dan B
b. Alkohol 70%
c. Kapas
d. Darah segar manusia

4.2 Cara kerja
  1.  Menarik garis tengah lurus dengan menggunakan pensil pada sisi panjang yang membagi gelas obyek menjadi dua bagian yang sama. Di pojok kiri atas gelas obyek tuliskan A dan di pojok kanan atas tuliskan B. letakkan gelas obyek pada selembar kertas putih.
  2. Mencuci tangan sampai bersih, mengambil segumpal kapas dengan pinset, celupkan dalam alkohol dan gosoklah pada ujung jari manis. Membiarkan alkohol mengering, kemudian menusuk bagian tersebut dengan menggunakan lanset yang telah disterilkan. Tempatkan setetes darah pada bagian A dan B pada gelas obyek
  3. Menutup bekas tusukan dengan kapas yang telah dicelupkan ke dalam alkohol
  4. Meneteskan segera serum anti A pada bagian A gelas obyek, aduk sampai merata dengan tusuk gigi
  5. Meletakkan setetes anti B pada darah di bagian B gelas obyek, aduk sampai merata dengan tusuk gigi
  6. Membandingkan kedua bagian A dan B pada gelas obyek jika :

         a. Terjadi penggumpalan pada bagian A, anda bergolongan darah A

         b.Terjadi penggumpalan pada bagian B, anda bergolongan darah B
     c.Terjadi penggumpalan pada bagian A dan B, anda bergolongan darah AB
     d.Tidak terjadi penggumpalan, anda bergolongan darah O

V.                   HASIL PENGAMATAN
No.
Probandus
Anti A
Anti B
Gol. darah
1.
Vela
Tidak menggumpal
Tidak menggumpal
O
2.
Nuris
Tidak menggumpal
Tidak menggumpal
O

golongan darah
golongan darah

VI.                   PEMBAHASAN
Sistem penggolongan darah pada manusia dibagi menjadi tiga macam, yaitu sistem ABO, sistem MN, dan sistem (rh). Sistem ABO merupakan penggolongan darah yang mulai dikenal ketika Karl Landsteiner (1868-1943), seorang ahli patologi berkebangsaan Austria berhasil menemukan penyebab terjadinya penggumpalan darah. Ia menyatakan bahwa penggumpalan darah disebabkan oleh dua tipe molekul yang disebut aglutinogen dan aglutinin. Dalam penelitiannya ditemukan bahwa satu jenis aglutinin tertentu dapat menyebabkan eritrosit menggumpal jika eritrosit tersebut  mengandung aglutinogen tertentu. Aglutinogen atau antigen adalah protein darah yang terdapat di dalam eritrosit, sedangkan aglutinin adalah protein darah yang terdapat di dalam serum (plasma) darah. Kita mengenal ada 4 macam golongan darah, yaitu A, B, AB, dan O. Dalam sistem golongan darah terdapat dua macam zat sel darah yakni A dan B, serta dua macam plasma yaitu anti A dan anti B. Berikut kombinasai yang mungkin terjadi, individu dengan A pada sel darah merahnya, memiliki anti B pada plasmanya, individu dengan B pada sel darah merahnya, memiliki anti A pada plasmanya, individu dengan A dan B pada sel darah merahnya, tidak memiliki anti A maupun anti B pada plasmanya, individu dengan A dan B pada sel darah merahnya, memiliki anti A maupun anti B pada plasmanya.
Pada tahun 1972, K. Landsteiner dan P. Levine telah menemukan golongan darah sistem MN, akibat ditemukannya antigen M dan antigen N pada sel darah merah manusia. Sistem ini digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu golongan M mengandung antigen M, golongan N mengandung antigen N, golongan MN mengandung antigen M dan antigen N. Penentuan jenis golongan darah pada sistem MN juga berdasarkan pada ada tidaknya aglutinogen pada sel darah merah, tetapi tidak dikenal adanya aglutinin. Jumlah alel yang menentukan golongan darah seseorang hanya ada 2, yaituIM dan IN. Kedua alel tersebut bersifat kodominan.
Faktor Rhesus pertama kali di temukan pada jenis kera oleh Landsteiner dan Wiener. Orang yang memiliki antigen rhesus dinamakan rhesus positif (Rh+), sedang yang tidak memiliki antigen rhesus dinamakan rhesus negative (Rh-). Sistem ini dikendalikan oleh gen dengan alel Rh dan rh. Alel Rh bersifat dominan terhadap alel rh. Kecocokan faktor rhesus sangat penting, karena ketidakcocokan golongan misalnya donor Rh+ sedangkan resipiennya Rh- dapat menyebabkan produksi antibodi terhadap (Rh) O yang dapat menyebabkan hemolisis.
Darah merupakan suatu suspensi sel dan fragmen sitoplasma di dalam cairan yang disebut plasma. Secara keseluruhan darah dapat dianggap sebagai jaringan pengikat dalam arti luas, karena pada dasarnya terdiri atas unsur-unsur sel dan substansi interseluler yang berbentuk plasma. Secara fungsional pun darah merupakan jaringan pengikat dalam arti menghubungkan seluruh bagian-bagian dalam tubuh sehingga merupakan integritas. Apabila darah dikeluarkan dari tubuh maka segera terjadi bekuan yang terdiri atas unsur berbentuk dan cairan kuning jernih yang disebut serum. Serum sebenarnya merupakan plasma tanpa fibrinogen (protein). Secara umum darah berfungsi sebagai media transportasi dalam tubuh. Darah manusia terdiri atas dua komponen, yakni cairan darah (plasma darah) dan komponen padat (butir-butir darah atau platelet). Darah tersusun atas 55% plasma darah, 44% sel darah merah dan sisanya adalah sel darah putih dan keping darah.
Darah memiliki beberapa fungsi diantaranya untuk mengangkut sari-sari makanan, air, dan oksigen ke seluruh tubuh, mengangkut CO2 dan zat sisa hasil metabolisme menuju organ ekskresi, mengatur keseimbangan asam dan basa agar terhindar dari kerusakan jaringan, sel darah putih berperan dalam mempertahankan tubuh dari infeksi kuman penyakit, menjaga stabilitas suhu tubuh, dan mengedarkan hormon dari kelenjar endokrin ke bagian tubuh tertentu.
Plasma darah mengandung fibrinogen yang berperan dalam pembekuan darah, serum albumin yang berkaitan dengan proses absorbsi, serum globulin yang berperan dalam membentuk antibodi yang diperlukan dalam reaksi imunitas, serta protein dalam serum darah yang berfungsi memelihara kekentalan (viskositas) darah atau memelihara osmosis darah. Selain itu ditemukan pula adanya enzim protrombin yang akan aktif ketika proses pembekuan darah. Dalam plasma darah terdapat zat anorganik yang mencapai 1% seperti karbonat, klorida, dan fosfat yang berikatan dengan logam kalsium, sodium, magnesium, dan potasium. Garam mineral berperan dalam memelihara darah agar tetap dapat menjalanan fungsinya.
Komponen padat atau sel darah terdiri atas sel darah merah, sel darah putih, dan keping darah. Sel darah merah (eritrosit) berbentuk bikonkaf berukuran 7,5  - 7,7  dan tidak memiliki inti. Eritrosit memiliki pigmen respirasi yang dinamakan hemoglobin. Hemoglobin berperan mengikat oksigen (O2) sehingga membentuk oksihemoglobin (HbO2). Ikatan oksihemoglobin menyebabkan warna merah pada darah. Hemoglobin memiliki unsur Fe2+. Eritrosit dibentuk di dalam sumsum tulang merah. Pada anak-anak, eritrosit dibentuk pada tulang pipa atau tulang panjang. Dalam tubuh, jumlah eritrosit diperkirakan 5 juta setiap mm3 pada laki-laki atau 4,5 juta mm3 pada wanita.
Sel darah putih (leukosit) tidak mempunyai inti, tidak berwarna, dan tidak mengandung hemoglobin. Sel darah putih mempunyai bentuk tidak tetap (amoeboid). Berdasarkan granula (butiran protein) pada sitoplasmanya, sel darah putih dibedakan menjadi sel darah putih yang bergranula (granulosit) dan sel darah putih tidak bergranula (agranulosit). Leukosit yang mengandung granula protein adalah eosinofil, basofil, dan neutrofil. Leukosit yang tidak mengandung granula protein adalah monosit dan limfosit. Dalam tubuh jumlah leukosit sekitar 5000-10.000 setiap mL darah. Leukosit dibentuk dalam sumsum tulang vertebra, kelenjar limfa, dan limpa. Jumlah leukosit dapat meningkat jika terjadi infeksi. Leukosit berfungsi membantu pertahanan tubuh terhadap benda asing yang masuk ke dalam tubuh.
Keping darah (trombosit) memiliki bentuk yang tidak beraturan, tidak memiliki inti, dan memiliki ukuran yang lebih kecil daripada eritrosit. Jumlah trombosit sekitar 250.000-400.000/mL darah. Trombosit memiliki peran penting dalam proses pembekuan darah. Proses pembekuan darah diawali dari adanya kulit atau pembuluh darah yang terluka yang menyebabkan trombosit pecah dan mengeluarkan enzim tromboplastin atau trombokinase, tromboplastin bertemu dengan protrombin dan ion Ca2+ sehingga terbentuk trombin, trombin bertemu dengan fibrinogen membentuk fibrin yang berupa benang-benang halus untuk menghalangi darah keluar.
Praktikum kali ini mempelajari mengenai golongan darah pada manusia. Golongan darah manusia dapat diketahui dengan meneteskan serum anti A dan anti B pada darah. Apabila saat ditetesi serum anti A darah menggumpal dan saat ditetesi serum anti B darah tidak menggumpal itu berarti orang tersebut memiliki golongan darah A. Apabila sebaliknya saat ditetesi serum anti A darah tidak menggumpal dan saat ditetesi serum anti B darah menggumpal berarti orang tersebut bergolongan darah B. Saat ditetesi serum anti A dan B keduanya menggumpal berarati golongan darahnya AB, dan ketika ditetesi serum anti A dan anti B darah tidak menggumpal berarti golongan darah orang tersebut adalah O. Kenapa saat ditetesi anti A dan atau anti B darah mengalami penggumpalan, karena darah mengandung serum A dan atau serum B yang merupakan bagian dari plasma darah yang mengandung antibodi, antibodi bertugas untuk mengatasi penyakit sehingga apabila antibodi bertemu dengan benda-benda asing dalam hal ini anti A dan atau anti B maka serum yang mengandung antibodi inilah yang akan bertugas memberi pertahanan  pada tubuh sehingga mengakibatkan darah mengalami penggumpalan.
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan terhadap dua orang probandus yakni vela dan nuris didapatkan hasil yang sama yaitu saat ditetesi serum anti A dan anti B darah sama-sama tidak menggumpal, hal itu menunjukkan bahwa vela dan nuris memiliki golongan darah O. Namun, pengujian secara manual (menggunakan serum anti A dan anti B) seperti ini belum bisa dikatakan 100% akurat, dikarenakan bisa saja serum yang digunakan telah kadaluarsa atau pun mengalami masalah.

VII.                PENUTUP
7.1  Kesimpulan
Ada empat macam golongan darah yaitu A, B, AB, dan O. Dalam sistem golongan darah terdapat dua macam zat sel darah yakni A dan B, serta dua macam plasma yaitu anti A dan anti B. Berikut kombinasai yang mungkin terjadi, individu dengan A pada sel darah merahnya, memiliki anti B pada plasmanya, individu dengan B pada sel darah merahnya, memiliki anti A pada plasmanya, individu dengan A dan B pada sel darah merahnya, tidak memiliki anti A maupun anti B pada plasmanya, individu dengan A dan B pada sel darah merahnya, memiliki anti A maupun anti B pada plasmanya.

7.2  Saran
Praktikum kali ini sudah baik, jaga kebersihan laboratorium dan tetap teliti saat praktikum.

VIII.             DAFTAR PUSTAKA
Azhar, dkk. 2014. Alat Pembaca Golongan Darah dan Rhesus. Jurnal Teknik Elektro dan 
          Komputer. Volume 2, nomor 2. Kota Pekanbaru
Guyton, A.C. 1995. Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC
Tim Dosen Pembina. 2015. Petunjuk Praktikum Biologi Dasar. Jember: Universitas Jember
Waluyo, Joko. 2006. Biologi Dasar. Jember : Jember University Press
Yatim,Wildan. 1987. Biologi. Bandung : Tarsito




Tidak ada komentar:

Posting Komentar