Search

Follow Us @soratemplates

Rabu, 27 Maret 2019

Laporan Praktikum Biologi Dasar Difusi dan Osmosis

08.25 0 Comments

Haloo teman-teman, kali ini aku bakalan sharing beberapa laporan praktikum selama aku kuliah, semoga bisa membantu..

I.                   JUDUL
Difusi dan Osmosis
II.                TUJUAN
Untuk memahami permasalahan yang terjadi dalam percobaan mengenai difusi dan osmosis
III.             DASAR TEORI
Transpor pasif adalah difusi zat melintasi membran tanpa mengeluarkan energi. Molekul memiliki tipe energi yang disebut gerak termal (panas atau kalor). Salah satu hasil gerak termal adalah difusi (diffusion), pergerakan molekul zat sehingga tersebar merata di dalam ruang yang tersedia. Suatu zat akan berdifusi dari tempat yang konsentrasinya lebih tinggi ke tempat yang konsentrasinya lebih rendah. Dengan kata lain, zat apa pun akan berdifusi menuruni gradien konsentrasi (concentration gradient), wilayah gradasi penurunan densitas zat kimia. Salah satu contoh penting difusi adalah pengambilan oksigen oleh sel yang melakukan respirasi selular. Difusi zat melintasi membran biologis disebut transpor pasif (passive transport) karena sel tidak harus mengeluarkan energi agar hal ini terjadi. Gradien konsentrasi sendiri merepresentasikan energi potensial dan menggerakkan difusi. Akan tetapi, ingat bahwa membran bersifat permeabel selektif dan karenanya memiliki efek berbeda-beda terhadap laju difusi berbagai molekul. Larutan dengan konsentrasi zat terlarut lebih tinggi akan memiliki konsentrasi air yang lebih rendah, dan air akan berdifusi ke dalam larutan tersebut karena alasan itu. Akan tetapi, untuk larutan encer seperti sebagian  besar cairan biologis, zat terlarut tidak terlalu mempengaruhi konsentrasi air. Perbedaan konsentrasi air bebas lah yang penting. Pada akhirnya efeknya sama saja : Air berdifusi melintasi membran dari wilayah yang berkonsentrasi zat terlarut lebih rendah ke wilayah yang berkonsentrasi zat terlarut lebih tinggi sampai konsentrasi zat terlarut pada kedua membran setara. Difusi air melalui membran permeabel selektif disebut osmosis (Campbel dkk., 2010:142-143).
Difusi adalah pergerakan molekul suatu zat secara random yang menghasilkan pergerakan molekul efektif dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Contoh-contohnya adalah difusi zat warna dalam air tenang, difusi glukosa dan teknik tomografi, difusi zat melalui membran, difusi oksigen dalam membran polimer. Bahkan difusi tidak hanya terjadi pada skala mikro tetapi juga skala makro, seperti difusi gas dalam galaksi. Model dasar yang digunakan dalam penelitian tentang difusi biasanya adalah hukum fick, namun bentuknya akan bervariasi sesuai dengan asumsi-asumsi peneliti (Trihandaru dkk., 2012).
Ekstraksi osmosis merupakan peristiwa berpindahnya kadar air dalam sel melalui membran semi permeabel dari keadaan sel yang hipotonis menuju hipertonis, sehingga terjadi plasmolisis yang menyebabkan terlepasnya sitoplasma dari dinding sel (Rahmasari dan Wahono, 2014).
Osmoregulasi terjadi pada hewan perairan, karena afanya perbedaan tekanan osmosis (osmosis berasal dari bahasa yunani yang berarti mendorong) antara larutan (biasanya kandungan garam-garam) di dalam tubuh dan di luar tubuh. Sehingga osmoregulasi merupakan upaya hewan air untuk mengontrol keseimbangan air dan ion-ion yang terdapat di dalam tubuhnya dengan lingkungan melalui sel permeable ( Lantu, 2010).
Konsentrasi merupakan faktor yang menentukan difusi dalam larutan. Konsentrasi air dalam air murni itu 100% sedangkan dalam larutan konsentrasinya kurang dari 100%. Zat terlarut menurunkan konsentrasi air, sedangkan air sebaliknya juga menurunkan konsentrasi zat terlarut. Contohnya adalah gula yang dilarutkan dalam air murni. Volume larutan yang terbentuk lebih besar daripada volume air murni, artinya konsentrasi air dalam larutan gula menjadi rendah. Akibatnya antara lain, tingkat penguapan air pada permukaan larutan gula lebih rendah daripada penguapan pada permukaan air murni. Selain itu, jika larutan gula diletakkan berdampingan dengan air murni dan hanya dipisahkan oleh suatu membran, maka akan terjadi difusi neto dari air murni ke larutan gula. Air berdifusi dari daerah dengan konsentrasi air yang tinggi ke daerah dengan konsentrasi air yang rendah. Untuk menjamin terjadinya difusi molekul air tanpa disertai molekul gula, maka membran harus bersifat dapat terlalui molekul air tetapi tidak dapat terlewati molekul gula. Membran demikian disebut bersifat permeabel diferensial. Cara yang dianggap baik untuk menyatakan gejala difusi ialah dengan menggunakan perbedaan nilai potensial kimia zat antara dua daerah. Jika terdapat perbdedaan nilai potensial kimia air di antara dua daerah, air akan bergerak secara spontan, asalkan tidak ada yang menghalangi gerakan air tersebut. Arah gerakan neto air dari daerah dengan potensial kimia tinggi ke daerah dengan potensial kimia yang rendah. Gerakan neto air akan berlangsung terus sampai potensial kimia air pada kedua daerah itu menjadi sama. Ada tiga faktor yang menentukan nilai potensial air pada saat difusi, yaitu matriks sel, larutan dalam vakuola, dan tekanan hidrostatik dalam isi sel (Tjitrosomo dkk., 1990:6-9).
Menurut (Tjitrosomo dkk., 1990:9) masuknya air ke dalam sel melalui membran sel disebut osmosis. Perlu diingat bahwa struktur dinding sel dan membran sel berbeda. Membran memungkinkan molekul air melintas lebih cepat daripada unsur terlarut. Sedangkan dinding sel primer biasanya sangat permebel terhadap keduanya. Memang membran sel tumbuhan memungkinkan berlangsungnya osmosis, tapi dinding sel yang tegar itulah yang menimbulkan tekanan. Sel hewan tidak mempunyai dinding, sehingga bila timbul tekanan di dalamnya, sel tersebut sering pecah, seperti yang terjadi saat sel darah merah dimasukkan ke dalam air. Sel yang turgid banyak berperan dalam menegakkan bagian tumbuhan yang tidak berkayu. Alat ukur osmosis disebut osmometer. Umumnya, osmometer adalah perkakas laboratorium tapi sel hidup dapat pula dianggap sebagai sistem osmotik (Salisbury dan Rose, 1995:46).

IV.             METODE PRAKTIKUM
4.1  Alat dan Bahan
Alat :
a.       Cawan petri
b.      Skalpel/pisau potong
c.       Gelas ukur
Bahan :
a.       Kentang
b.      Garam dapur halus
c.       Air
4.2  Cara kerja


V.                   HASIL PENGAMATAN
Kelompok 1 (dengan garam)
Volume awal : 25 mL
Volume akhir : 24,5 mL
Rasa awal : tawar
Rasa akhir  : asin    
Tekstur kentang awal : keras
Tekstur kentang akhir : lunak
Warna kentang awal : kuning cerah
Warna kentang akhir : kuning pucat
Kelompok 2 (dengan garam)
Volume awal : 25 mL
Volume akhir : 24 mL
Rasa awal : tawar
Rasa akhir  : hambar
Tekstur kentang awal : keras
Tekstur kentang akhir : lunak
Warna kentang awal : kuning cerah
Warna kentang akhir : kuning pucat
Kelompok 3 (tanpa garam)
Volume awal : 25 mL
Volume akhir : 22,5 mL
Rasa awal : tawar
Rasa akhir  : tawar    
Tekstur kentang awal : keras
Tekstur kentang akhir : keras
Warna kentang awal : kuning cerah
Warna kentang akhir : kuning pucat
Kelompok 4 (tanpa garam)
Volume awal : 25 mL
Volume akhir : 24 mL
Rasa awal : tawar
Rasa akhir  : tawar    
Tekstur kentang awal : keras
Tekstur kentang akhir : keras
Warna kentang awal : kuning cerah
Warna kentang akhir : kuning pucat
Kelompok 5 (tanpa garam)
Volume awal : 25 mL
Volume akhir : 24 mL
Rasa awal : tawar
Rasa akhir  : tawar    
Tekstur kentang awal : keras
Tekstur kentang akhir : lembek
Warna kentang awal : kuning cerah
Warna kentang akhir : kuning pucat
Kelompok 6 (tanpa garam)
Volume awal : 25 mL
Volume akhir : 22,5 mL
Rasa awal : tawar
Rasa akhir  : tawar    
Tekstur kentang awal : keras
Tekstur kentang akhir : lembek
Warna kentang awal : kuning cerah
Warna kentang akhir : kuning pucat

                                              
VI.             PEMBAHASAN
Dalam praktikum difusi dan osmosis yang pertama dilakukan adalah menyiapkan dua butir kentang, kemudian mengupasnya dan membentuknya menjadi kubus. Setelah itu membentuk cekungan yang cukup dalam pada salah satu sisi kentang. Langkah selanjutnya adalah mengisi cekungan sebanyak separuhnya dengan garam dapur halus, sedangkan pada kentang satunya cekungan dibiarkan kosong. Kemudian meletakkan kedua kentang tersebut dalam cawan petri yang telah diisi air sebanyak 25 mL dan membiarkannya selama 30 menit. Setelah 30 menit berlalu kentang dikeluarkan dan diamati, serta mengukur kembali volume air yang ada pada cawan petri menggunakan gelas ukur. Setelah melakukan pengamatan didapatkan hasil bahwa air pada cawan petri berkurang ± 1-2,5 mL dan pada beberapa percobaan tekstur kentang ada yang berubah dari yang awalnya keras menjadi lunak.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa difusi dan osmosis merupakan transpor pasif, sebab dalam melakukan transportasi molekulnya baik difusi maupun osmosis tidak memerlukan energi. Transpor pasif juga dapat dikatakan sebagai transportasi molekul yang menuruni gradien konsentrasi. Difusi dapat diartikan sebagai perpindahan zat dari larutan yang berkonsentrasi tinggi (hipertonis) ke larutan dengan konsentrasi lebih rendah (hipotonis). Hasil dari difusi adalah konsentrasi yang sama antara larutan tersebut yang dinamakan dengan isotonis. Sedangkan osmosis merupakan difusi air melalui selaput semi permeabel. Air akan bergerak dari daerah yang mempunyai konsentrasi larutan rendah ke daerah yang mempunyai konsentrasi larutan tinggi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa difusi merupakan perpindahan molekul (zat terlarut) dari konsentrasi tinggi menuju ke konsentrasi yang rendah, sedangkan osmosis merupakan perpindahan pelarut (air) dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah melalui selaput permeabel. Jadi, pada difusi yang berpindah adalah zat terlarutnya sedangkan pada osmosis yang berpindah adalah pelarutnya (air).
Dalam praktikum kali ini kentang berfungsi sebagai bahan yang akan diamati dalam percobaan difusi dan osmosis. Ada beberapa variabel yang diamati pada praktikum kali ini yakni variabel bebas, variabel terikat, dan variabel kontrol. Variabel bebasnya yaitu kentang dan penambahan garam, variabel kontrolnya yaitu volume awal air dan ukuran kentang. Sedangkan variabel terikatnya yaitu volume akhir kentang, tekstur kentang, dan warna akhir kentang.
Pada percobaan kentang yang direndam dalam air biasa volume airnya berkurang. Hal itu disebabkan air dalam cawan petri masuk ke dalam kentang. Peristiwa yang terjadi pada kentang yang direndam dalam air biasa adalah peristiwa difusi, dimana kandungan air yang berada di luar kentang lebih besar sehingga air cenderung masuk ke dalam kentang yang menyebabkan berat kentang bertambah dan air dalam cawan petri berkurang.
Sedangkan pada percobaan kentang yang diberi garam pada cekungannya air menjadi asin, hal itu disebabkan kandungan air (telah mengandung garam) dalam kentang tersebut ke luar menuju air dalam cawan petri. Peristiwa tersebut dinamakan dengan peristiwa osmosis. Dimana kandungan air dalam kentang lebih besar sehingga air dalam kentang yang sudah mengandung garam cenderung keluar dan menyebabkan berat kentang berkurang dan air di luar kentang (dalam cawan petri) menjadi asin.
Teksur awal kentang adalah keras dan warnanya kuning cerah. Namun,  setelah dimasukkan dalam larutan yang mengandung garam tekstur kentang menjadi lunak (lembek) dan warnanya berubah menjadi kuning pucat. Hal itu disebabkan karena kentang yang hipotonis terhadap larutan garam. Sehingga air yang ada pada kentang keluar dari sel-sel kentang yang menyebabkan tekstur kentang menjadi lembek.
Pada percobaan kentang yang diberi garam tekstur awal kentang adalah keras. Namun, setelah didiamkan selama 30 menit tekstur kentang berubah menjadi lembek. Sedangkan pada percobaan kentang yang didiamkan pada air biasa selam 30 menit baik tekstur awal maupun akhirnya sama yakni keras. Warna awal pada kentang adalah kuning cerah, setelah didiamkan dalam air biasa maupun air garam warna kentang berubah menjadi kuning pucat.

VII.          PENUTUP
7.1  Kesimpulan
Setelah melakukan praktikum mengenai difusi dan osmosis, didapatkan kesimpulan bahwa difusi merupakan perpindahan zat terlarut dari konsentrasi tinggi menuju ke konsentrasi yang rendah. Sedangkan, osmosis adalah perpindahan pelarut (air) dari konsentrasi tinggi menuju konsentrasi yang rendah melalui selaput permeabel.
7.2  Saran
Praktikum kali ini sudah baik dan tertib. Namun, alangkah lebih baik lagi kalau praktikan diberi tugas lain saat menunggu proses difusi dan osmosis yang ± 30 menitan, sehingga waktu tersebut tidak digunakan untuk hal lain yang kurang bermanfaat seperti mengobrol sendiri atau mainan HP di dalam laboratorium.

VIII.       DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Neil A., dkk. 2010. Biologi. Jakarta: Penerbit Erlangga
Lantu, S. 2010. Osmoregulasi Pada Hewan Akuatik. Jurnal Perikanan dan
Kelautan. Manado. Volume VI, Nomor 1
Rahmasari, Hamita dan Wahono Hadi Santoso. 2014. Ekstraksi Osmosis Pada
Pembuatan Sirup Murbei (Morus alba L.) Kajian Proporsi Buah: Sukrosa
dan Lama Osmosis. Jurnal Pangan dan Agroindustri. Malang. Volume 2, Nomor 3
Salisbury, Frank dan Cleon W Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Bandung:
Penerbit ITB
Tjitrosomo, Siti Sutarmi, dkk. 1990. Botani Umum. Bandung: Angkasa Bandung
Trihandaru, Suryasatriya, dkk. 2012. Pemodelan dan Pengukuran Difusi Larutan
Gula dengan Lintasan Cahaya Laser. Prosiding Pertemuan Ilmiah XXVI HFI. Purworejo

IX.             LAMPIRAN
laporan praktikum difusi osmosis

laporan praktikum difusi osmosis